DAMPAK PERGAULAN BEBAS REMAJA
BAB I
PENDAHULUAN
A .
Latar Belakang
Remaja adalah generasi penerus yang akan membangun bangsa
ke arah yang lebih baik yang mempunyai pemikiran jauh ke depan dan kegiatannya
yang dapat menguntungkan diri sendiri,keluarga,dan lingkungan sekitar. Maka dari itu remaja tersebut harus mendapatkan
perhatian khusus,baik oleh dirinya sendiri,orang tua,dan masyarakat
sekitar. Banyak kita basa di media massa maupun kita lihat di media
elektronik adanya remaja yang berprestasi juga ada remaja yang melakukan
tindakan atau perbuatan yang merugikan dirinya sendiri,keluarga dan masyarakat
sekitar.
Pergaulan bebas di kalangan remaja di
indonesia saat ini dirasa amat memperihatinkan. Ini terlihat dari data
banyaknya jumlah anak usia sekolah (remaja) yang telah melakukan hubungan seks,
tanpa ikatan perkawinan.
Menurut data hasil
survey KPAI, sebanyak 32 persen remaja usia 14-18 tahun di Jakarta, Surabaya,
dan Bandung pernah berhubungan seks. Fakta lainnya, sekitar 21,2 persen remaja
putri di Indonesia pernah melakukan aborsi. Selebihnya, separuh remaja wanita
mengaku pernah bercumbu. Karena itu, kami membuat karya tulis ilmiah ini untuk
membahas, membagi informasi dan mumbuka wawasan kita lebih jauh mengenai
masalah yang serius ini. Agar kita dan orang-orang di sekitar kita bisa
terhindar dari pergaulan dan seks bebas, terutama bagi kalangan remaja yang
sangat rentan akan hal ini.
B
. Rumusan Masalah
Apakah pengertian dari
pergaulan bebas?
· Apa faktor penyebab terjadinya pergaulan bebas
di kalangan remaja?
· Apa saja dampak yang timbul dari pergaulan
bebas terhadap remaja?
· Bagaimana cara mencegah terjadinya pergaulan
bebas di kalangan remaja?
· Bagaimana penanggulangan bagi remaja yang telah
melakukan pergaulan bebas?
C. Tujuan Penulisan
Adapun
Tujuan Penulisan ini, antara lain :
1.
Mengetahui pengertian
dari pergaulan bebas.
2.
Mengetahui faktor
penyebab terjadinya pergaulan bebas di kalangan remaja.
3.
Mengetahui dampak yang
timbul dari pergaulan bebas terhadap remaja.
4.
Mengetahui cara mencegah
terjadinya pergaulan bebas di kalangan remaja.
5.
Mengetahui cara
penanggulangan bagi remaja yang telah melakukan pergaulan bebas.
D.
Manfaat Penulisaan
Adapun Manfaat yang dapat diperoleh dari penulisan ini,
yaitu mengetahui, memahami dan menjelaskan
secara mendalam dan terperinci tentang pergaulan remaja masa kini serta dampak buruk
yang kita peroleh.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. METODE PENELITIAN
- Searching
- Browsing
- Interview
B. PEMBAHASAN MASALAH
2.1 Pergaulan Remaja Masa Kini
2.1 Pergaulan Remaja Masa Kini
Kita tentu tahu bahwa pergaulan
bebas itu adalah salah satu bentuk perilaku menyimpang, yang mana “bebas” yang
dimaksud adalah melewati batas-batas norma ketimuran yang ada. Masalah
pergaulan bebas ini sering kita dengar baik di lingkungan maupun dari media
massa. Remaja adalah individu labil yang emosinya rentan tidak terkontrol oleh
pengendalian diri yang benar. Masalah keluarga, kekecewaan, pengetahuan yang
minim, dan ajakan teman-teman yang bergaul bebas membuat makin berkurangnya
potensi generasi muda Indonesia dalam kemajuan bangsa.
Masa remaja adalah masa yang paling
berseri. Di masa remaja itu juga proses pencarian jati diri. Dan, disanalah
para remaja banyak yang terjebak dalam pergaulan bebas.
Menurut Program Manajer Dkap PMI
Provinsi Riau Nofdianto seiring Kota Pekanbaru menuju kota metropolitan,
pergaulan bebas di kalangan remaja telah mencapai titik kekhawatiran yang cukup
parah, terutama seks bebas. Mereka begitu mudah memasuki tempat-tempat khusus
orang dewasa, apalagi malam minggu. Pelakunya bukan hanya kalangan SMA, bahkan
sudah merambat di kalangan SMP. ‘’Banyak kasus remaja putri yang hamil karena
kecelakan padahal mereka tidak mengerti dan tidak tahu apa resiko yang akan
dihadapinya,’’ kata cowok yang disapa Mareno ini pada Xpresi, Rabu (20/8) di
ruang kerjanya.
Sejak berdirinya Dkap PMI tiga tahun
lalu, kasus HIV dan hamil di luar nikah terus mengalami peningkatan. Setiap
bulan ada 10-20 kasus. Mereka yang sebagian besar kalangan pelajar dan
mahasiswa ini datang untuk melakukan konseling tanpa didampingi orang tua.
‘’Rata-rata mereka berusia 16-23. Bahkan ada yang berusia 14 tahun datang ke
Dkap untuk konsultasi bahwa ia sudah hamil. Mereka yang melakukan konseling,
ada datang sendiri, ada juga dengan pasangannya. Sebagian besar orang tua
mereka tidak tahu,’’ ujarnya.
Meskipun begitu, lanjutnya para
remaja yang mengalami ‘kecelakaan’ ini tak boleh dijauhi dan dibenci. ‘’Kita
tidak pernah melarang mereka untuk melakukan hubungan seks, karena ketika
dilarang atau kita menghakimi, mereka akan menjauhi kita. Makanya, Dkap disini
merupakan teman curhat mereka dan kita memberikan solusi bersama. Seberat
apapun masalahnya, kalau bersama bisa diatasi,’’ ungkapnya lagi.
Bukan hanya remaja nakal saja yang
terjebak, anak baik pun bisa kena. ‘’Anak baik yang disebut anak rumah pun ada
yang mengalami ‘kecelakaan’,’’ ucapnya.
Oleh sebab itu, sangat diperlukan
pancegahan dini dengan memberikan pengetahuan seks. ‘’Pendidikan seks itu
sangat penting sekali. Tapi, di masyarakat kita pendidikan seks itu masih
dianggap tabu. Berdasarkan pengamatan kami, banyaknya remaja yang terjebak seks
bebas ini dikarenakan mereka belum mengetahui tentang seks. Seks itu bukan
hanya berhungan intim saja. Tapi, banyak sekali, bagaimana merawat organ vital,
mencegah HIV dan lainnya. Pelajari seks itu secara benar supaya kita bisa hidup
benar,’’ tuturnya.
Sementara itu, Martha Sari Uli
pelajar SMAN 4 Pekanbaru mengaku interaksi bebas di kalangan remaja dalam
pergaulan bebas, identik dengan kegiatan negatif. ‘’Banyak anak-anak remaja
beranggapan bahwa masa remaja adalah masa paling indah dan selalu menjadi
alasan sehingga banyak remaja yang menjadi korban dan menimbulkan sesuatu yang
menyimpang,’’ ungkapnya ketika diminta komentarnya mengenai pergaulan bebas di
kalangan remaja.
Senada dengan itu, Debora Juliana
juga pelajar SMAN 4 Pekanbaru mengatakan pergaulan bebas itu saat ini sudah
tidak tabu lagi, dan banyak remaja yang menjadikannya budaya modern.
‘’Pergaulan bebas berawal ketika remaja mulai melakukan perbuatan yang keluar
dari jalur norma-norma yang berlaku di sekitar kehidupan kita. Sekarang banyak
banget anak-anak seumuran kita sudah keluar dari jalurnya,’’ ujar cewek
kelahiran 18 Juli 1993. ‘’Kalo aku nggak pernah melakukan hal tersebut dan
jangan sampai lah,’’ tambahnya.
Di tempat terpisah, Ketua MUI
Provinsi Riau Prof Dr H Mahdini MA mengatakan data yang ditemukan lebih banyak
lagi anak-anak yang melakukan seks bebas. Maka diperlukan pencegahan. ‘’Saya
meminta semua kalangan, baik para pendidik, orang tua, dan tokoh masyarakat
agar memfungsikan tugas-tugas sosialnya,’’ pintanya.
Banyaknya kalangan remaja yang melakukan
seks bebas, lanjutnya diindikasikan ada jaringan tertentu yang menggiring
anak-anak ke hal yang negatif. Oleh karena itu, MUI menghimbau untuk menutup
tempat yang berbau maksiat. ‘’Menutup tempat maksiat itu jauh lebih penting
demi generasi muda,’’ sarannya.
Ditingkat pergaulan dalam kondisi
hari ini, anak-anak bisa saja berbohong. Oleh sebab itu, sambungnya pengawasan
orang tua harus diperketat. Tentu saja contoh perilaku orang tua sangat
berperan.
Ia berharap, semua sekolah-sekolah
tanpa terkecuali memperkuat kembali kehidupan beragama. ‘’Kita harus menanamkan
nilai-nila agama sejak dini sehingga mereka memiliki kepribadian yang kuat,’’
katanya.
Hal yang sama juga diutarakan Drs
Ali Anwar, kepala SMA 5 Pekanbaru. Menurutnya, akibat perkembangan zaman,
ketika agama tidak lagi menjadi pokok dalam kehidupan banyak remaja yang
terjebak dalam pergaulan bebas. ‘’Solusinya, kuatkan lagi ajaran agama. Baik di
sekolah maupun di rumah agama merupakan kebutuhan pokok,’’ ucapnya.
Selain itu, orang tua harus lebih
memperhatikan anaknya. ‘’Orang tua dan anak harus selalu berkomunikasi.
Sehingga tahu persoalan anak,’’ ungkapnya.
2.2 Akibat Yang Ditimbulkan Remaja
Masa Kini
Melakukan hubungan seks secara bebas
merupakan akibat pertama dari pergaulan bebas yang merupakan lingkaran setan
yang tidak ada putusnya dengan berbagai akibat di berbagai bidang antara lain
di bidang sosial, agama dan kesehatan sebagai berikut :
- Dalam seks bebas terkumpul
bermacam-macam dosa dan keburukan yakni berkurangnya iman si penzina, hilangnya
sikap menjaga diri dari dosa, buruk kepribadian dan hilangnya rasa cemburu.
- Seks bebas menghilangkan rasa
malu, padahal dalam agama malu merupakan suatu hal yang amat ditekankan dan
dianggap perhiasan yang sangat indah khususnya bagi wanita.
- Menjadikan wajah pelakunya muram
dan gelap.
- Membuat hati menjadi gelap dan
mematikan sinarnya.
- Menjadikan pelakunya selalu dalam
kemiskinan atau merasa demikian sehingga tidak pernah merasa cukup dengan apa
yang diterimanya.
- Akan menghilangkan kehormatan
pelakunya dan jatuh martabatnya baik di hadapan Tuhan maupun sesama manusia.
- Tuhan akan mencampakkan sifat liar
di hati penzina, sehingga pandangan matanya liar dan tidak terjaga.
- Pelaku seks bebas akan dipandang
oleh manusia dengan pandangan muak dan tidak percaya.
- Zina mengeluarkan bau busuk yang
mampu dicium oleh orang-orang yang memiliki ‘qalbun salim’ (hati yang bersih)
melalui mulut atau badannya.
- Apa yang didapatkan para pelaku
seks bebas dalam kehidupan ini adalah sebaliknya dari apa yang diinginkannya.
Ini adalah karena, orang yang mencari kenikmatan hidup dengan cara bermaksiat
maka Tuhan akan memberikan yang sebaliknya dari apa yang dia inginkan, dan
Tuhan tidak menjadikan maksiat sebagai jalan untuk mendapatkan kebaikan dan kebahagiaan.
- Perzinaan menyeret kepada
terputusnya hubungan silaturrahim, durhaka kepada orang tua, berbuat zalim,
serta menyia-nyiakan keluarga dan keturunan. Bahkan boleh membawa kepada
pertumpahan darah dan perdukunan serta dosa-dosa besar yang lain. Seks bebas
biasanya berkait dengan dosa dan maksiat yang lain sebelum atau bila berlakunya
dan selepas itu biasanya akan melahirkan kemaksiatan yang lain pula.
- Seks bebas menghilangkan harga
diri pelakunya dan merusakkan masa depannya di samping meninggalkan aib yang
berkepanjangan bukan saja kepada pelakunya bahkan kepada seluruh keluarganya.
- Aib yang dicorengkan kepada pelaku
seks bebas lebih membekas dan mendalam daripada dosa kafir misalnya, karena
orang kafir yang memeluk Islam selesailah persoalannya, namun dosa zina akan
benar-benar membekas dalam jiwa karena walaupun akhirnya pelaku zina itu
bertaubat dan membersihkan diri dia akan masih merasa berbeda dengan orang yang
tidak pernah melakukannya.
2.3 Tentang Prilaku Seks Bebas di Kalangan Remaja
Menurut data hasil
survey KPAI, sebanyak 32 persen remaja usia 14-18 tahun di Jakarta, Surabaya,
dan Bandung pernah berhubungan seks. Salah satu pemicunya, muatan pornografi
yang diakses via internet. Kepada remaja, jangan pernah menulis sejarah dengan
tinta benci dendam di atas halaman putih ketulusan orangtua.
Fakta lainnya, sekitar
21,2 persen remaja putri di Indonesia pernah melakukan aborsi. Selebihnya,
separuh remaja wanita mengaku pernah bercumbu. Survei KPAI juga menyebutkan, 97
persen perilaku seks remaja diilhami pornografi di internet. Dunia internet
adalah dunia yang menyebarkan "kebohongan yang positif", termasuk
soal seks.
Di Jakarta, menurut
Riset Strategi Nasional Kesehatan Remaja yang dilakukan oleh Departemen
Kesehatan dan Survei yang dilakukan BKKBN menyebutkan 5,3 persen pelajar SMA di
Jakarta pernah berhubungan seks. Dan 63 persen remaja di beberapa kota besar di
Indonesia telah melakukan seks pra nikah. Dari hasil survei yang dilakukan
Annisa Foundation ditemukan 42,3 persen remaja SMP dan SMA di Cianjur, Jawa
Barat, pernah berhubungan seks.
Tentang seks pranikah,
dr Boy Abidin, Sp.OG, dari Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading,
mengatakan, ancaman nyata adalah kehamilan di luar nikah serta aborsi yang
tidak aman. "Mayoritas remaja percaya hubungan seks yang dilakukan satu
kali tidak menyebabkan kehamilan, padahal faktanya tidak demikian,"
katanya.
"Sejak dini remaja
perlu dibekali dengan informasi yang benar tentang tubuhnya, seksualitas, dan
organ reproduksi," tuturnya. Kenyataannya, pengetahuan remaja mengenai
metode kontrasepsi dan hubungan seks yang aman dinilai masih pas-pasan bahkan
rendah. Wow, ayah dan ibu silakan meratap karena berakhir sudah kebohongan yang
dibangun dari dunia bisik-bisik malam kelam.
Survei internasional
yang dilakukan Bayer Healthcare Pharmaceutical terhadap 6.000 remaja di 26
negara mengungkapkan, ada peningkatan jumlah remaja yang melakukan seks tidak
aman.
"Di mana pun negara
Anda tinggal, hambatan informasi menjadi penyebab para remaja ini menerima
informasi yang salah mengenai seks dan kontrasepsi," kata Denise Keller,
salah satu peneliti survei itu.
Alih-alih mewacanakan
seks dan remaja, sebuah stasiun televisi swasta pekan ini mengilustrasikan
topik itu dengan menayangkan gambar seorang remaja putri bercelana minim dan
berkaos ketat selengan. Dia berjalan bergandengan tangan bersama teman prianya.
Mengapa yang justru diobyekkan gambar seorang perempuan manakala bicara soal
seks dan remaja?
Tayangan media televisi
dan inetrnet kerapkali menafikan kekhasan tubuh perempuan, yakni tubuh yang
mengalami menstruasi secara berkala, tubuh yang memiliki payudara dan mempunyai
rahim. Tayangan itu mengambil alih tubuh pria untuk menyebut pengalaman
kebertubuhan perempuan. Ini bias pria ketika bicara soal seks dan remaja.
Bias itu
"dicibir" oleh filsuf Simone de Beauvoir. Katanya, seseorang tidak
dilahirkan sebagai perempuan tetapi dikonstruksikan oleh situasi sosial,
historis, kultural dan ekonomisnya menjadi perempuan. Slogan populernya,
"One is not born a woman, one becomes one." Bagi pria, perempuan
dipandang sebagai obyek seks (The Other, Sang Liyan), sementara pria dilihat
sebagai Sang Subyek.
Bagaimana orangtua
menyikapinya? Ketika berbicara soal seks kepada remaja, jangan pernah berbicara
dan berlaku seperti layaknya agen rahasia Israel Mossad yang punya semboyan,
"Kau akan berperang dengan tipu muslihat." Bukankah mantan agen
Mossad, Victor Ostrovsky menulis bahwa persepsi adalah segalanya, karena itu
informasi harus dikendalikan dan dimainkan dengan kebohongan.
Jauhi cara-cara yang
meniru gaya Mossad manakala orangtua bicara soal seks di hadapan remaja.
Gunakan model pendekatan ruang lingkup kebudayaan (circulo de cultura) yang
dipopulerkan oleh tokoh pendidikan Amerika Latin Paulo Freire.
Maksudnya, berikan rasa
aman dan penerimaan seluas-luasnya kepada remaja sebagai pribadi yang berhak
berkembang. Remaja menamai jagat dunia seksnya sendiri. Bukan jagat dunia seks
versi orangtua. Caranya, temukan dan bicarakan bersama-sama topik-topik
ngetrend soal seks dan remaja.
Dan tuan putri YYX
bertutur, "Dengan ibu, aku membicarakan segalanya, dari pengalaman
pacaran, sampai my first kiss. Segalanya lapor sama ibu. Ibu adalah penguasa
tunggal di hatiku." Saat itu juga, Dewi Aphrodite meminta para pelayannya
untuk menyelubungi dirinya dengan menggunakan kerudung tipis.
Aphrodite menyukai
sajian bunga-bunga putih, pohon apel, dan bunga ros. Wahai remaja, berikan
ibumu persembahan bunga-bunga khas Aphrodite seraya berdoa, "Seks adalah cara
untuk mendekatkan diri dengan Tuhan."
Sumber:
http://www.berita8.com/read/2011/10/04/6/48390/Tentang-Prilaku-Seks-Bebas-di-Kalangan-Remaja
2.4 Cara
Mencegah Perilaku Seks Pada Remaja
Berikut beberapa saran yang mungkin
bisa dilakukan untuk mencegah prilaku seks bebas pada remaja:
Adanya kasih sayang,
perhatian dari orang tua dalam hal apapun serta pengawasan yang tidak bersifat
mengekang.
Salah satu faktor
terbesar yang mengakibatkan remaja kita terjerumus ke dalam prilaku seks bebas
adalah kurangnya kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya. Perilaku seks
bebas pada remaja saat ini sudah cukup parah. Peranan agama dan keluarga sangat
penting untuk mengantisipasi perilaku remaja tersebut. Sebagai makhluk yang
mempunyai sifat egoisme yang tinggi maka remaja mempunyai pribadi yang sangat
mudah terpengaruh oleh lingkungan di luar dirinya akibat dari rasa ingin tahu
yang sangat tinggi. Tanpa adanya bimbingan maka remaja dapat melakukan perilaku
menyimpang. Untuk itu, diperlukan adanya keterbukaan antara orang tua dan anak
dengan melakukan komunikasi yang efektif. Mungkin seperti menjadi tempat curhat
bagi anak-anak anda, mendukung hobi yang diinginkan selama kegiatan tersebut
positif untuk dia.
Pengawasan yang perlu
dan intensif terhadap media komunikasi.
Pada usia remaja, mereka
selalu mempunyai keinginan untuk mengetahui, mencoba dan mencontoh segala hal.
Seperti dari media massa dan elektronik yang membuat remaja seringkali terpicu
untuk mengikuti seperti yang ada dalam tayangan tersebut. Oleh karena itu,
diperlukan adanya pengawasan dalam hal tersebut. Mungkin dengan mendampingi
mereka saat melihat tayangan tersebut.
Menambah kegiatan yang positif
di luar sekolah, misalnya kegiatan olahraga.
Selain menjaga kesehatan
tubuh, kesibukan di luar sekolah seperti olahraga dapat membuat perhatian
mereka tertuju ke arah kegiatan tersebut. Sehingga, memperkecil kemungkinan
bagi mereka untuk melakukan penyimpangan prilaku seks bebas.
Perlu dikembangkan model
pembinaan remaja yang berhubungan dengan kesehatan produksi.
Perlu adanya wadah untuk
menampung permasalahan reproduksi remaja yang sesuai dengan kebutuhan.
Informasi yang terarah baik secara formal maupun informal yang meliputi
pendidikan seks, penyakit menular seksual, KB dan kegiatan lain juga dapat
membantu menekan angka kejadian perilaku seks bebas di kalangan remaja.
Perlu adanya sikap tegas
dari pemerintah dalam mengambil tindakan terhadap pelaku seks bebas.
Dengan memberikan
hukuman yang sesuai bagi pelaku seks bebas, diharapkan mereka tidak mengulangi
perbuatan tersebut.
BAB III
METODE PENELITIAN
Hasil Penelitian
Penyebab pergaulan bebas
Persentase :
|
No.
|
Keterangan
|
Jumlah
Responden
|
Persentase
|
|
1.
|
Lingkungan
|
50
|
55 %
|
|
2.
|
Pendidikan
|
16
|
10 %
|
|
3.
|
Perhatian Orang Tua
|
34
|
35
|
· Pengetahuan tentang Pergaulan Bebas
|
No.
|
Keterangan
|
Jumlah
Responden
|
Persentase
|
|
1.
|
Tahu
|
34
|
91 %
|
|
2.
|
Tidak tahu
|
30
|
9 %
|
BAB IV
PEMBAHASAN
Jalan Keluar
· Menanamkan Nilai Keimanan
· Mengurangi nonton televise
· Banyak beraktifitas postif
· Bertaqwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa
BAB V
PENUTUP
Kesimpulan
permasalahan remaja kita
merupakan persoalan yang sangat serius. Jika permasalahan remaja yang ada di
negeri ini tidak dikurangi dan diselesaikan dengan cepat maka dapat menyebabkan
hancurnya tatanan bangsa di masa depan. Beberapa faktor yang mendorong anak
remaja usia sekolah SMP dan SMA melakukan hubungan seks di luar nikah
diantaranya adalah pengaruh liberalisme atau pergaulan hidup bebas, faktor
lingkungan dan faktor keluarga yang mendukung ke arah perilaku tersebut serta
pengaruh dari media massa. Seks bebas adalah perilaku seks di luar hubungan
pernikahan. Menurut Sigmund Freud, seks adalah naluri dasar yang sudah ada
sejak manusia lahir. Sejak lahir, manusia sudah menjadi mahluk yang seksual
atau memiliki libido (enerji seksual) yang mengalami perkembangan melalui fase
yaitu: oral, anal, falik dan genital.
Berikut beberapa saran
yang mungkin bisa dilakukan untuk mencegah prilaku seks bebas pada remaja:
Adanya kasih sayang,
perhatian dari orang tua dalam hal apapun serta pengawasan yang tidak bersifat
mengekang.
Salah satu faktor
terbesar yang mengakibatkan remaja kita terjerumus ke dalam prilaku seks bebas
adalah kurangnya kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya. Perilaku seks
bebas pada remaja saat ini sudah cukup parah. Peranan agama dan keluarga sangat
penting untuk mengantisipasi perilaku remaja tersebut. Sebagai makhluk yang
mempunyai sifat egoisme yang tinggi maka remaja mempunyai pribadi yang sangat
mudah terpengaruh oleh lingkungan di luar dirinya akibat dari rasa ingin tahu
yang sangat tinggi. Tanpa adanya bimbingan maka remaja dapat melakukan perilaku
menyimpang. Untuk itu, diperlukan adanya keterbukaan antara orang tua dan anak
dengan melakukan komunikasi yang efektif. Mungkin seperti menjadi tempat curhat
bagi anak-anak anda, mendukung hobi yang diinginkan selama kegiatan tersebut
positif untuk dia.
Pengawasan yang perlu
dan intensif terhadap media komunikasi.
Pada usia remaja, mereka
selalu mempunyai keinginan untuk mengetahui, mencoba dan mencontoh segala hal.
Seperti dari media massa dan elektronik yang membuat remaja seringkali terpicu
untuk mengikuti seperti yang ada dalam tayangan tersebut. Oleh karena itu,
diperlukan adanya pengawasan dalam hal tersebut. Mungkin dengan mendampingi
mereka saat melihat tayangan tersebut.
Menambah kegiatan yang
positif di luar sekolah, misalnya kegiatan olahraga.
Selain menjaga kesehatan
tubuh, kesibukan di luar sekolah seperti olahraga dapat membuat perhatian
mereka tertuju ke arah kegiatan tersebut. Sehingga, memperkecil kemungkinan
bagi mereka untuk melakukan penyimpangan prilaku seks bebas.
Perlu dikembangkan model
pembinaan remaja yang berhubungan dengan kesehatan produksi.
Perlu adanya wadah untuk
menampung permasalahan reproduksi remaja yang sesuai dengan kebutuhan.
Informasi yang terarah baik secara formal maupun informal yang meliputi
pendidikan seks, penyakit menular seksual, KB dan kegiatan lain juga dapat
membantu menekan angka kejadian perilaku seks bebas di kalangan remaja.
Perlu adanya sikap tegas
dari pemerintah dalam mengambil tindakan terhadap pelaku seks bebas.
Dengan memberikan
hukuman yang sesuai bagi pelaku seks bebas, diharapkan mereka tidak mengulangi
perbuatan tersebut.
Sumber:
http://www.berbagaihal.com/2011/03/mencegah-prilaku-seks-bebas-pada-remaja.html
BAB VI
DAFTAR PUSTAKA
Sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar